5 Fakta Menarik Pendidikan Anak Usia Prasekolah
5 Fakta Menarik Pendidikan Anak Usia Prasekolah
Baca juga info : kursus bahasa
inggris
Tidak sedikit orang tua di Indonesia yang memasukkan anaknya pada
pendidikan anak usia dini (PAUD). Bahkan, ada yang dimulai sejak usia di
bawah tiga tahun.
Melihat fakta tersebut, Benesse Educational Research and Development
(BERD) Institute milik Benesse Corporation, perusahaan pelayanan
pendidikan di Jepang, mengadakan survei pada tahun 2017 kepada ibu-ibu
yang memiliki anak usia 4 sampai 6 tahun. Survei itu tidak hanya
dilakukan di Indonesia, tetapi juga di Finlandia, Cina dan Jepang. Di
Indonesia, survei dilakukan kepada 900 responden yang berdomisili di
Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi.
Baca juga info : info
kursus bahasa inggris
Direktur PT
Benesse Indonesia Daisuke Okada menjelaskan, survei dilakukan dengan
mewawancarai para ibu melalui kunjungan ke rumah. Poin-poin yang
disurvei antara lain waktu kebiasaan anak terkait media pembelajaran,
sudut pandang orang tua terkait pengasuhan dan pendidikan untuk anak,
harapan untuk masa depan anak, kemampuan sosial emosional anak, dan
waktu yang dihabiskan bersama anak.
Negara subyek survei
penelitian adalah negara-negara yang berada di Benua Asia seperti
Jepang, dan Indonesia yang merupakan negara dengan ekonomi berkembang,
terdiri atas berbagai macam agama dan etnis, dan Cina yang fokus pada
pengembangan kemampuan sosial emosional dalam pendidikan usia dini.
Sebagai perbandingan dari Benua Eropa, Finlandia dipilih.
"Dibandingkan
ibu-ibu dari Jepang, Cina, dan Finlandia, ibu-ibu di Indonesia memiliki
keinginan yang lebih kuat agar anaknya menjadi sosok yang mewarisi
keturunan keluarga, sosok yang akan mengurus orang tua di masa yang akan
datang, sosok yang bisa mengabulkan cita-cita orang tua, dan sosok yang
akan mengabdi kepada masyarakat di masa depan," ungkapnya, dalam siaran
pers, Selasa (22/5).
Ketua Asosiasi Pendidikan Guru PAUD
Dr Sofia Hartati MSi mengungkapkan bahwa dari hasil survei, diketahui
waktu kebiasaan anak berbeda-beda di setiap negara bergantung pada
sistem pendidikan anak usia prasekolah, kebudayaan, agama, dan iklim. Di
Indonesia, kesadaran keluarga lebih kuat karena adanya pengaruh dari
agama. Mereka cenderung mengharapkan anaknya menjadi sosok yang memegang
peranan dalam keluarga.
Berikut lima fakta menarik dari hasil survei tersebut, yaitu:
Baca juga info : kursus
bahasa inggris di al azhar pare
Fakta pertama adalah terkait waktu kebiasaan anak
Ternyata,
anak-anak Indonesia tercatat bangun tidur lebih awal. Alasannya,
Indonesia memiliki banyak kegiatan pada pagi hari dan bagi anak-anak
pemeluk agama Islam harus melakukan shalat Subuh. Pada hari biasa, anak
Indonesia yang bangun tidur sebelum pukul 05.30 mencapai 11,1 persen dan
yang bangun pada pukul 06.00 mencapai 31,9 persen.
Baca juga info : info
kursus bahasa inggris mudah
Sementara
itu, anak-anak di tiga negara lainnya (Jepang, China, dan Finlandia)
yang bangun tidur pada pukul 05.30 hanya mencapai kurang dari tiga
persen. Adapun yang bangun pada pukul 06.00 hanya kurang dari 13 persen.
Anak-anak di Jepang, Cina, dan Finlandia ternyata lebih banyak bangun
tidur pada pukul 07.00.
Fakta kedua adalah terkait waktu yang dihabiskan di playgroup atau PAUD (pendidikan anak usia dini)
Hasil
survei mengungkapkan bahwa 89,8 persen anak Indonesia menghabiskan
waktu kurang dari empat jam di PAUD. Itu artinya, lebih singkat
dibandingkan dengan anak-anak dari negara lain.
Anak-anak
di Indonesia ternyata tidak ada yang pernah menghabiskan waktu di PAUD
hingga lebih dari delapan jam. Sebaliknya, anak-anak di negara lain
justru banyak menghabiskan waktu di PAUD hingga lebih dari delapan jam.
Anak-anak di Cina yang menghabiskan waktu lebih dari delapan jam di PAUD
mencapai 50 persen. Selanjutnya, disusul oleh anak-anak di Finlandia 44
persen dan Jepang 10 persen. Lamanya anak-anak di Jepang, Cina, dan
Finlandia menghabiskan waktu di PAUD karena banyak orang tua di sana
adalah wanita pekerja.
Fakta ketiga adalah terkait mengasuh anak dari perspektif ibu
Bagi
ibu di Indonesia, ada tiga hal yang memerlukan usaha paling besar dalam
mengasuh anak. Pertama, menerapkan kebiasaan-kebiasaan yang baik,
seperti menyikat gigi, mandi, dan sebagainya (66,9 persen). Selanjutnya,
disusul dengan usaha menjaga kesehatan tubuh (64,8 persen), dan main
bersama orang tuanya (56,7 persen).
Dalam studi
longitudinal, perkembangan pada usia prasekolah (3 sampai 6 tahun) yang
dilakukan oleh BERD, anak-anak yang menguasai kebiasaan hidup pada usia 3
sampai 4 tahun akan memiliki kemampuan sosial emosional yang lebih baik
pada usia 4 sampai 5 tahun.
Baca juga info : kursus bahasa
inggris di pare
Kemampuan sosial
emosional itu berhubungan dengan perkembangan aspek kognitif seperti
huruf, angka, dan kemampuan berpikir. Oleh karena itu, menanamkan
kebiasaan hidup sejak dini sangat penting untuk mengembangkan aspek
kognitif dan afektif anak.
Fakta keempat adalah terkait harapan orang tua terhadap masa depan anak
Hasilnya,
para ibu di Indonesia mengharapkan anaknya menjadi orang yang
menyayangi keluarga (75,8 persen), menjadi orang yang memiliki sikap
kepemimpinan (53,1 persen), dan menjadi orang yang bisa memanfaatkan
kemampuan tinggi dalam pekerjaan (35 persen).
Serupa dengan
ibu di Indonesia, ibu di Cina (77,9 persen) dan Finlandia (81,7 persen)
juga menginginkan anak mereka menjadi orang yang menyayangi keluarga.
Hanya para ibu di Jepang berharap anak mereka menjadi orang yang
memiliki pendirian atau pendapat sendiri (72,3 persen).
Fakta kelima adalah terkait sosok seorang anak
Para
ibu di Indonesia menilai bahwa anak adalah sosok yang mewarisi
keturunan keluarga untuk masa depan (64,3 persen), sosok yang akan
mengurus orang tua pada masa yang akan datang (57,9 persen), dan sosok
yang bisa mengabulkan cita-cita orang tua (57 persen). Tiga penilaian
tersebut merupakan hasil survei yang unik dari Indonesia karena 30 poin
lebih tinggi dibandingkan negara lain.
Sofia Hartati
memaparkan bahwa dari suku dan agama apa pun yang dianut sebagain besar
masyarakat Indonesia, anak merupakan harapan orang tua dan penerus
keluarga. Secara psikologis, memiliki anak dapat menimbulkan rasa aman
karena saat mereka tua ada yang menjaga, merawat, dan memberi perhatian.
Sementara
itu, para ibu di Jepang (66,6 persen) dan Finlandia (98,9 persen)
menilai bahwa anak adalah sosok yang memakmurkan kehidupan sehari-hari.
Adapun ibu di Cina menilai bahwa anak adalah sosok yang mempunyai
karakter atau kepribadian yang berbeda dengan orang tua (81,2 persen).
"Dari
hasil survei, kita dapat melihat bahwa kebiasaan anak-anak di setiap
negara berbeda-beda, tergantung dari sistem pendidikan anak usia
prasekolah, kebudayaan, agama, dan iklim," ujar Sofia.
Namun,
dari sini dipahami bahwa sangatlah penting untuk melakukan pendidikan sejak usia dini. Pendidikan yang baik untuk anak-anak pada usia ini
adalah bermain bersama orang tua dan menghabiskan waktu bermain sambil
belajar. Selain itu, juga penting bagi anak-anak untuk mulai menanamkan
kebiasaan hidup yang baik sejak dini karena ini akan berdampak kepada
pertumbuhan motivasi dan kepercayaan diri anak untuk melakukan banyak
hal pada masa depan.

Comments
Post a Comment